Selasa, 20 September 2011

UPDATE 20 SEPT: TERALIS dan KASA NYAMUK


Roster atau angin-angin (ada juga yang menyebutnya loster. Udang kali. Jiaaah)dari bahan kayu, idenya didapat dari kantor sendiri. Saat asyik-asyik meeting, tiba-tiba ada panggilan batman lewat telp. Maksudnya telp penting dari Gresik. Tak elok menerima telp dari ruang meeting, saya pun bergegas keluar ruangan, sembari memberi kode ke pimpinan rapat.

Setelah blablabala, dan hendak masuk meeting room lagi, mata saya tertumbuk pada roaster kayu yang memisahkan sekat ruang redaksi IT dengan voyage. Ukurannya 30 x 30cm. Sepertinya dari kayu artificial. Di bagian tengahnya ada penyekat kaca, untuk meredam suara dari luar.

Gagasan ini kemudian saya aplikasi ke proyek Jengki Vintage. Berhubung memilih pintu kembar dengan ukuran lumayan besar, ruang yang tersisa di bagian kiri-kanannya hanya cukup untuk roaster 20x30 cm. Jadilah roaster jati sebanyak 12 buah. Masing-masing 3 buah kiri dan kanan. Kemudian 6 sisanya untuk pintu balkon atas.

Amazing, hasilnya uapik tenan. Ruangan terasa adem. Angin sepoi-sepoi membuat ruangan terasa sejuk dan tidak gerah. Apalagi ada besi angin-angin ukuran raksasa di bagian atasnya. Tapi, muncul masalah pelik. Ternyata lubang angin yang cukup banyak itu membuat rumah mudah kemasukan debu. Ya, iyalah. Kenapa juga ga dipikirkan dari awal. Menepok dahi berkali-kali, bukannya masalah terpecahkan. tapi kelapa jadi tambah pusing.

Mencoba berburu teralis lama, tidak kunjung berhasil. Maklum ukuran 20x30cm bukan ukuran favorit bagi meneer-meneer Belanda atau Sir Inggris yang dulu sempat ke Indonesia. Tidak juga bagi kaum ningrat dan bangsawan yang punya rumah gedongan di masa lalu.

Untuk mengaplikasi teralis model sekarang, sedikitpun tidak menggoda hati. Desainnya monoton. Dicontek sana-sini. Dari rumah mewah, turun ke BTN dan sampai RSS, nyaris tidak ada perbedaan desain. Yang membedakan paling banter kualitas bahan. Ya, kalo bukan besi holo, besi nako, besi tempa atau stainless steel.

Sampai kemudian saya mengunjungi rumah duka di kawasan Cinere. Mas Sigit, bossku di kantor, sedang berduka. Mertua meninggal. Hujan deras. Bersama sahabat, namanya Boy, menembus Cinere tengah malam buta. Terlambat. Iring-iringan duka sudah menuju Jawa Tengah.

Tinggallah, kami ditemani yang jagain rumah ngobrol-ngobrol. Ternyata suami-istri setengah umur itu mengenal saya dan Boy dengan baik. Saya juga baru tahu malam itu, putera beliau adalah salah satu tim kerja saya selama belasan tahun. Bahkan saya yang merekomendasi agar teman itu masuk di tim kerja saya tahun 2000 lalu.

Sementara asyik ngopi, saya melihat teralis milik mas Sigit yang sederhana. Tapi justru itu yang memikat hati. Singkat cerita, saya pulang mengantongi ide. Lewat Mang Uce, saya akhirnya mendapatkan teralis istimewa. Tapi modelnya bukan seperti milik mas Sigit. Melainkan kloning dari teralis lama milik saya sendiri. Mestinya, tidak ada samanya di muka bumi ini. Kecuali nanti ada yang menconteknya. Hehehehe... Teuteup

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar