Jumat, 01 Juli 2011

Vintage

Sebagian orang salah mengartikan "Vintage". Kata ini acapkali dikaitkan dengan sesuatu yang tua serta, old fashion dan out model. Menyebut Vintage sering diasosiasikan ke anggur (wine) yang berusia cukup lama, keluaran tahun-tahun tertentu. Biasanya dikaitkan musim petik anggur terbaik. Atau hobi mengoleksi mobil-mobil tua dan klasik. Atau out-model clothing yang skerap juga dipakai oleh brand seperti Levi's, Guess, atau Polo.


Memang tidak 100% salah. Tapi supaya tidak misleading, makna Vintage menjadi sangat spesifik dan sempit, ada baiknya kita cuplik definisi Vintage menurut Dictionary by Farlex: "Characterized by excellence, maturity, and enduring appeal; classic". Terjemahan bebasnya menjadi: Vintage adalah pencerminan sebuah kesempurnaan karakter, kematangan, bertahan lama dan Klasik.

Kalau defenisi Farlex bisa disetujui, maka jelas sudah Vintage tidak spesifik ditujukan untuk wine, car and clothing. Tapi juga sangat relevan bila digunakan untuk dunia arsitektur, design, ornamen, material bahkan pernik-pernik rumah.


Vintage tidak dibatasi oleh ruang waktu tertentu, sebagaimana halnya terminologi jengki, baby boomers, punk rock, renaissance, gothic, masa kolonialisme dan sebagainya. Tapi penggunaan kata Vintage lebih elastis, menembus sekat-sekat waktu dan aliran. Sepanjang karakternya dianggap sempurna, maturity, bertahan lama dan klasik (ingat Farlex), maka sebuah karya atau ide dapat dianggap Vintage.


Nah, dengan begitu konsep Jengki Vintage dapat diartikan sebagai sebuah gaya atau aliran atau desain yang terinspirasi dari pakem jengki dengan pengayaan (enrichment) atau penguatan (reinforcement) dari ornamen-ornamen Vintage. Yaitu dengan ciri kekuatan karakter yang mendekati sempurna, matang, bertahan lama dan klasik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar