Selasa, 05 Juli 2011

Koleksi Jati Lama dari Jatim





Tak pernah bermimpi, tiba-tiba saya diapproach oleh satu pimpinanku di jl Panjang. "Secepatnya lu mesti ke Surabaya," katanya pelan. Saya bertanya, "Ini perintah atau diskusi?" Dijawab, harus dilaksanakan. Oalah... alamak jah, daripada buang waktu adu argumentasi dengan boss, karena memang prinsipnya tidak boleh menolak tugas, saya mengangguk sambil meringis. Besoknya saya langsung berkemas-kemas, meski minimal ada dua hal yang berat saya tinggalkan: kondisi 2A dan peluang sekolah ke Inggris.

Tentu saja bagaimana dengan 2A. Si Sulung sedang masa pancaroba. Ada anak tetangga, dipanggil Bleki, akhir-akhir ini sering dolan ke rumah. Jelas bukan untuk menggonggong. Feeling saya selalu tidak enak, setiap kali dia lewat dan menyapa sok ramah, "Sore, Oom." Mana ada orang tua yang mau anak perempuannya dekat dengan lajang yang etos pendidikannya melempem. Apalagi sesekali saya melihatnya lebih mirip kuli dibanding sinyo-sinyo di kandangnya sendiri. Untungnya, kejadian menegangkan itu tidak berlangsung lama. Si Sulung sendiri yang memutuskan untuk menjauhkan diri. Sampai sekarang saya tidak tahu apa alasan resminya, dan mungkin ada baiknya tidak perlu tahu. Kita semua pernah muda kan?

Pertimbangan si bungsu, lebih berat lagi. Usianya yang masih 1 tahun, tentu sangat berat untuk ditinggalkan beda kota. Lagi lucu-lucunya. Apalagi beberapa bulan terakhir, dia sering sakit. Gampang flu dan sesak napas. Bisa dibayangkan beratnya hijrah ke Surabaya. Tak ada lagi makhluk yang pipis sambil berdiri di C20.

Faktor lain yang dirasa cukup memberatkan adalah jika ke Surabaya untuk jangka waktu yang tidak tahu berapa lama, otomatis saya harus melepaskan peluang meraih beasiswa untuk studi di Inggris. Rasanya sulit mengabaikan mimpi-mimpi bersekolah doktoral di salah satu universitas di Inggris. Menyebut nama Oxford, Cambridge, Imperial College London, St. Andrews, Durham, Warwick, York, Lancaster, Edinburgh, Exeter atau Bath, membuat air liur pengen ngences. Maklum, baru bangun tidur.

Kebetulan, di akhir-akhir masa studi, saya mendapatkan IPK salah satu yang tertinggi di pascasarjana manajemen komunikasi UI. Dan karena itu mendapatkan penawaran untuk mengikuti seleksi bertahap untuk program S3 ke Inggris. Belum tentu lulus sih, tapi karena pindah domisili kota, konsekuensinya saya harus melepaskan kesempatan itu. Mungkin belum rezeki. Begitu saya membesarkan hati.

Tiba di kota Surabaya, saya segera bisa melupakan semua kegalauan. Mendapatkan teman kantor yang baik, ramah, semangat tinggi dan supportif. Dodo, Soni, Dian, Anang, Kipli, Indra, Abbas, mas Hero, gandi, Dimas, dan banyak lagi. Juga mendapatkan kawan-kawan baru dari luar kantor. Sego Sambel alias SS Wonokromo adalah makanan kesukaanku. Terletak di tengah pasar agak dekil, hampir saban malam saya rela antre untuk mendapatkan 1 piring SS. Padahal menunya "cuma" nasi hangat, telor dadar, tempe dan ikan goreng.

Tapi sambelnya yang maut itu, membuat saya ketagihan. Harga, kalo tidak salah masih Rp 3.500 per porsi. Mentraktir teman kantor pun, tidak lah memberatkan. Lama-lama peserta SS dari kantor Jemursari makin berkurang. Mungkin tidak tahan pedas atau heran dengan selera saya yang itu-itu saja. Ini doyan atau kikir ya? Mungkin begitu pikir mereka yang resign dari tim SS. Bukan pasukan NAZI lho ya, tapi Sego Sambel.

Di luar pekerjaan kantor, saya mulai ketularan berburu perabot lama dari kayu jati. Daripada beli Oli*pic atau L*gna yang akan hancur kalau kena hujan -- apalagi banjir - mendingan beli perabat lama dari kayu jati. Asal pintar milih, pasti akan dapat barang bagus dan harga reasonable atawa masuk akal. Begitu nasihat teman-teman yang sudah duluan kecebur. Mas Agus, Mas Sigit, Mas Iko, Rong, dhw, kopy, Pak dokter kelamin, Babe Nanang Baso adalah biang racunnya.

Perburuan pun dimulai. Setiap ada waktu lowong, saya menjelajah Surabaya dan kota-kota kecil di Jawa Timur. Kebetulan saya dipercayakan memegang mobil operasional Hyundai Elantra warna merah jreng. Begitu mendapat sepotong informasi, saya segera terbang ke lokasi. Sering tersesat, tapi lebih sering lagi memang ketemu barang bagus.

Selesai bayar, biasanya lemari atau kursi saya titip di penjualnya. Males bawa ke rumah kontrakan. Entar repot. Sambil titip duit tambahan untuk dikerok dan pelitur ulang. Bahkan ada yang harus di bedah total.

Salah satu pengalaman paling menegangkan adalah saat mendapatkan meja vanderpol di kawasan kota Surabaya lama. Yang pertama kali melihat, bukan saya sih. Tapi mas Kopy, rekan kami yang juga kolektor enamel dan barang lama. Sebetulnya dia sudah sangat sugih sebagai juragan pelek. Tapi tetap ulet kalau soal tawar-menawar.

Saking alotnya dia menawar meja vanderpol itu, si penjual mengalihkan dagangannya ke saya. Melihat belum ada transaksi, saya menaikkan tawaran. Eh, sekali nawar langsung dikasih. Mas Kopy keki berat. Meja untuk ruang tamu itu pun jadi perebutan dan perdebatan panas yang tidak ada habisnya, sampai sekarang. Pak Kopy merasa lebih berhak. Sementara saya yang merasa halal menawar, tidak sudi melepas barang berharga ini.

Tahukah Anda berapa harga meja ini waktu saya beli? Ilustrasinya begini. Jika punya Toyota Fortuner Diesel dan Anda mengisinya full tank dengan Pertamina Dex, maka duitnya lebih besar beli sekali bbm itu dibanding harga meja Vanderpol.

Coba perhatikan perabot jati pada foto-foto di atas. Ada yang lebih murah dari meja Vanderpol, namun ada juga yang lebih mahal. Tapi tetap hitungannya progresif rasional. Tidak ada yang luar biasa expensive. Namun, sekarang Anda tidak akan mungkin mendapatkan harga segitu. Beberapa bulan lalu, ketika saya kembali ke Surabaya untuk tugas one day trip, iseng-iseng saya kembali ke kawasan Surabaya kota tua. Ya ampyuuun, harganya rata-rata sudah 5 kali lipat. Bahkan ada yang lebih. "Barang jati lama, makin susah dik," keluh si penjual yang sudah opa-opa itu.

Kembali ke soal pola saya menitipkan perabot yang sudah saya bayar itu. Saat keluar SK untuk menarik saya ke Jakarta hampir dua tahun kemudian, tepatnya 1 Maret 2004, pelan-pelan saya kumpulkan perabot jati lama itu untuk dikirim ke C20 Jakarta. Gilee, ternyata hampir penuh satu truk size jumbo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar