Selasa, 30 Agustus 2011

AC ELECTROLUX, FINALLY (1)


PREFERENSI

Untuk melengkapi kebutuhan finishing proyek Jengki Vintage, dibutuhkan 2 buah AC tambahan. Masing-masing spek 1 PK dan ½ PK. Seperti juga konsumen lainnya, tentu saya memiliki preferensi merek yang saya prioritaskan. Kalau bukan LG, ya Panasonic. Berdasarkan experience bertahun-tahun, dan awarness maupun persepsi publik. Terutama teknisi AC yang beberapa kali saya temui.

Pengalaman saya bersama AC LG, terbilang panjang. Hampir 15 tahun lalu, saya membeli AC merek LG kapasitas 1 PK. Saya agak lupa tipenya. Selama itu pula, produk ini tidak pernah bermasalah. Saya hanya berurusan dengan teknisi AC, ya saat isi freon sekaligus membersihkannya. Itu pun tidak sering-sering banget. Mungkin 1 atau 2 tahun sekali. Hebatnya lagi, AC ini sudah berpindah tempat 4 atau 5 kali. Maklum, setiap membeli AC baru, AC LG lama ini turun kasta ke ruangan lain. Terakhir bahkan harus dipindahkan ke rumah kontraktor. Simsalabim, tetap dingin dan tidak rewel.

Karena itulah ketika kamar Anet juga butuh AC, sekitar tahun 2005, tak ragu saya kembali memilih AC LG. Tipenya saya juga lupa, tapi yang pasti sudah lebih advance dengan fitur penyaringan udara dan low voltage. Speknya dipilih yang ½ PK, sesuai luas kamar Anet yang hanya sekitar 8 – 9 meter per segi. Tapi AC LG setengah PK ini kurang teruji, karena kamar ini faktanya jarang terpakai. Sang penghuni, sampai umur hampir 9 tahun, lebih suka bersama mama dan papa-nya di kamar utama.

Mengingat kebutuhan si anak yang rada sensitif terhadap alergi debu dan udara kotor lainnya, kami memilih AC Panasonic 1 PK dengan fitur top off the line saat itu. Yakni yang dilengkapi dengan tambahan pipa yang menyemburkan 02 murni, plus ionizer dan air puryfying. Kalau tidak salah, harganya hampir Rp 5 juta saat pembelian tahun 2005. Hampir 3 kali lipat dengan AC merek-merek Cina saat itu, atau 2 kali lipat untuk AC brand kuat (seperti LG, Sharp, Toshiba, Samsung, Sanyo, Daikin) yang hanya memiliki fitur standar. “Yang saya tahu, AC itu hanya National (sekarang Panasonic). Yang lainnya, nggak deh,” sebut chief di kantor.

Mungkin karena pemasangan dan penggunaan serta perawatan yang cukup teratur (termasuk memberihkan sendiri saringan udara selama sekali dalam sebulan), saya tidak pernah menemui masalah dengan AC LG dan Panasonic. Kalau pun berhubungan dengan teknisi AC, ya saat isi freon , membersihkan unit AC dan kompresor atau memindahtempatkan unit ke ruangan atau rumah lain.


SEARCHING

Itulah sebabnya, saya memprioritaskan brand LG dan Panasonic saat berburu AC ½ dan 1 PK. Setiap mampir di mall atau pusat elektronik atau pasar swalayan besar, saya pasti sempatkan melihat-lihat AC. Dari yang besar-besar seperti Electronic City, Electronic Solution, Best Denki, Giant, Carrefour, Depo Bangunan, Mitra10, Hypermart. Sampai toko kecil khusus AC.

Mungkin di antara Anda ada yang bertanya, kok kayak ga ada kerjaan? Sampai bela-belain cari AC sampai nyelimet kayak begitu. Hohohoo.. Bukan begitu. Biasanya saya punya keperluan lain untuk membeli kebutuhan proyek 2A. Nah, sekalian liat-liat AC. Maklum, saya bukan kaum Nazaruddin yang mendapat berkah easy money. Setiap rupiah, harus dipertimbangkan dengan matang. Dan Alhamudilillah, ternyata dapat ilmu baru, yang semoga bermanfaat di kemudian hari. Untuk diri saya, keluarga, teman, handai taulan dan prembaca blog ini.

KANDIDAT

Setelah mempertimbangkan budget dan kebutuhan AC -- ini faktor yang paling penting saat membeli barang elektronik. Karena kadang demi nafsu dan gengsi, kita membeli produk yang over spec. Dan malah tidak bermanfaat alias mubazir. Agak melenceng sedikit. Kita ambil contoh. Teknologi Inverter. Manfaatnya akan terasa, khususnya penghematan, jika AC ini terus menerus dihidupkan selama 8 jam sehari. Dan, akan mencapai penghematan listrik yang maksimal, saat AC ini sudah digunakan secara konstan kurang lebih 2-3 jam. Jika sering dimatikan dan dihidupkan, apalagi dengan kondisi ruangan yang sering keluar masuk manusia, Inverter malah tidak bermanfaat. Malah cenderung terjadi pemborosan listrik. Nah, kebutuhan dan kondisi kami, bukanlah inverter. Karena AC umumnya digunakan hanya menjelang tidur dan kondisi khusus.

Dengan demikian saya menominasikan LG Hercules 2: untuk ½ PK seharga Rp 2,9 juta dengan klaim listrik 310 Watt dan 1 PK seharga Rp 3,1 juta yang diklaim memakan 650 watt. Kenapa bukan Hercules Mini yang 260 Watt? Jawabannnya simpel, sesuai kebutuhan ruangan dan cukup aktifnya keluarga saya keluar masuk ruangan. Angka 260 watt itu pasti akan susah diperoleh. Pertimbangan teknisnya adalah karena hanya menyedot 260 watt, maka suhu yang diinginkan akan lama tercapai. Dan in i biasanya akan memancing kita memainkan tombol remote. Ini salah satu yang mempercepat proses pemborosan listrik dan memperpendek umur pakai AC.

Kenapa bukan LG Terminator? Yam karena AC ini bukan untuk mengusir nyamuk biasa. Tapi, menurut brosur LG yang saya baca, hanya bisa mengusir nyamuk DB. Walah, kalo hanya itu, AC lain juga bisa lah.
Bagaimana dengan Panasonic? Untuk kebutuhan ½ PK , dikandidatkan tipe Semi Deluxe series, ALOWA 320 watt. Tipenya CS-KC5MKJ dengan banderol sekitar Rp 3 juta. Sementara AC 1 PK, saya tertarik dengan tipe CS-C9MKP seharga Rp 3,4 juta. Lazim disebutseri ECONAVI, Advanced e-ion Air Purifying System.

Dalam perjalanannya, ternyata mendapat godaan dari brand Sharp dengan fitur andalan Plasmacluster, Samsung dengan fitur aneka rupa dan produk Mitsubishi yang katanya paling bandel. Sayang ceritanya harus berhenti sampai di sini dulu, Ngantuk. Entar mau sahur puasa terakhir tahun ini. Nanti akan saya lanjutkan di bagian 2 soal AC ini, khususnya cerita kenapa akhirnya saya memilih produk Electrolux.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar